Langkau ke kandungan utama

Entri 203 : Ghost

How many of you have you seen ghost?

Me neither as far as I can remember. Usually it is someone we know have seen the ghost, or someone we know someone else see the ghost.

Yet, we never see once. When we listen to their stories we tries to understand by reflecting what we have seen. Tried to gather any of our similar experience and give our best opinion although nobody ask.

So funny we come to comment, 'maybe you should see a counsellor' or 'you might have sadness' to reason why they see the thing that we cannot see. Most of the time it always about our, none or less about them.

My mom got Covid. 

My siblings along with their kids are wearing pink bracelet and me are far away helpless, tries my best to support.

We had sleepless night and share our worries but at the front my mom we pretend we are happy. We plays and told her, please treat this as your vacation.

Don't think much, please enjoy the vacation.
Everything is going to be fine.
Not only us face the Covid, there many other people experience the same thing.
No worries, do not stress. Covid won't able to kill us if we are positive.
All good words.

It sound like a hypocrite but ... I hope you will understand.

In the past, we always listen to Covid stories like listening to the ghost stories.

The hardest part is to explain to people who haven't go through it. 

It is me, personally. Nothing about other people. The most frightened thing in my life is to lose my trust toward people after telling the stories.

It's hard when you start to share and people brush it away and telling their experience instead. Maybe me too, did the same thing.

Now I do understand why some victims very hard to explain thing. The saddest thing is not the tragedy itself but people that they are going to lose their trust after sharing the tragedy. Tragedy it's hard already but having no one to trust is the hardest.

No wonder some say, 'be careful to problem to the people because it will show who they are.'

Knowing people's true color,  I guess I am not so ready to know it yet.

Ahh... deep in my heart it is so lonely because noone can listen like me expecting them to listen. 

Therefore, hasbiAllah, Lailahaillallah, alaihi tawakkaltu, wa huwa Rabbu arshil Azim.





Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

Entri 207: Lebah sesat masuk rumah

Sudah hampir pukul 10 malam. Dia sudah siap menvakum rumah dan menadah air. Baldi-baldi, bekas-bekas plastik, jag-jag sudah dipenuhkan dengan air. Esok dijangka ada gangguan bekalan air. Oktober mungkin boleh diistiharkan Pesta Tiada Air mungkin?  Bunyi berdesing mengganggu telinganya. Seekor serangga berputar-putar di siling menghampiri lampu sedang kucingnya yang bernama Pandan melihat dengan mata yang bulat. Dia berdiri di bawah lampu, merenung ke arah serangga yang berputar-putar. Seperti tebuan. Serangga berbisa. Dia menarik nafas. Otaknya berpusing, bagaimana mahu menyahkan serangga ini dari rumah? Oh, dia teringatkan vakum. Dicabutnya nozel vakum, dihalakan ke arah serangga yang berputar-putar sambil kucing melompat-lompat mahu menerkam. "Jangan Pandan!" ZzzZZZZZ Serangga itu disedut ke dalam vacum. Dia melihat bekas habuk yang jernih. Tebuan itu masih hidup. Eh, warnanya berbelang kuning hitam.  Lebah rupanya. Tiba-tiba dia berasa seram. Lebah yang menerima arahan dar...

Entri 190 : Pak Min

"Assalamualaikum Pak Min. Selamat Hari Raya, kerja lagi hari ni?" tegur Pak Tam, Mak Utih yang mengekorinya bergeseran lengan. "Tengah buat kerja la ni." Pak Min menjawab dengan riang sambil menyapu lantai yang dipenuhi sisa makanan semalam. Pak Min dikenali dengan kerajinannya walaupun baru saja berpindah ke taman aqua ini. Pantang nampak sampah, semua nak disapu.  "Uii... tak penat ke kerja tiap-tiap hari. Tak bergaji pula tu." Mak Utih menyampuk. "Nak buat macam mana takdir. Lagi pun kerja mencuci ni kerja yang takkan pernah berhenti sampai mati sebab semua makhluk suka perkara bersih. Yang pengotor pun suka bersih."jawab Pak Min sambil menyapu pasir, lobak yang tersangkut dikoreknya dengan teliti. "Ehh... ehh bang cepat. Tu makanan dah sampai." Mak Utih menerpa ke arah makanan. Pak Tam juga menurut laju. Sempat Pak Tam berpaling, "Pak Min cepatlah! Nanti makanan habis ditelan Mak Utih." Pak Min menggeleng,"Tak apa, ak...

Entri 85 : Impian

Apa impian mu? Impianku pulang ke kampung, menjaga orang tuaku tanpa risau tentang duit atau hutang. Kamu tidak ingin bernikah? Ya.Aku ingin menikah tapi yang penting impianku mahu menjaga kedua ibu bapaku.Itu yang pasti.Semua orang yang lahir belum tentu akan bernikah di dunia ini.Tapi semuanya pasti mempunyai ibu bapa.Ramai yang mendirikan rumah tangga tapi terlupa kebajikan ibu bapa di kampung.Pulang hanya sewaktu ibu sakit atau hari raya.Kalau sudah berkahwin, tergantung pula rumah mertua di mana.Jika tidak pulang, berapa kerap yang selalu menelefon orang tua bertanya khabar?Selalu call bilamana ada kecemasan sahaja. Padahal masing masing tahu betapa susahnya ibu bapa memelihara kita dahulu seperti mana kita berasa susah memelihara anak kita sekarang.Sayang, saat kita sibuk membina keluarga, kita meninggalkan keluarga kita.Aku tak mahu itu.Sekarang aku bujang,tinggal berjauhan.Jika berdekatan juga aku akan sibuk bekerja.Bayangkan sekarang sebelum kahwin aku tidak ada masa u...